Selasa, 26 Mei 2015

Pentingnya Kemampuan Bernegosiasi Bagi Sekretaris Kantor


Oleh Zulaikha Ulfie Maria

Sekretaris merupakan salah satu penentu keberhasilan dari seorang pemimpin dan sebuah perusahaan. Karena menjadi sekretaris memiliki kedudukan sebagai lalu lintas arus komunikasi dari atasan kepada bawahan, bawahan kepada atasan dan antar clien yang berbeda instansi atau perusahaan.
Memiliki ketrampilan komunikasi yang baik adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang sekretaris. Mampu menyampaikan perintah dari atasan kepada bawahan dengan cepat, tanggap, efektif  dan akurat adalah suatu kewajiban dalam tugasnya. Seorang sekretaris juga harus mampu dengan akurat memberikan informasi ataupun pesan yang berasal dari bawahan kepada atasan.
Kemampuan yang tidak kalah penting adalah kemampuan bernegosiasi dengan clien dari perusahaan lain. Seorang sekretaris wajib memiliki kemampuan untuk melakukan negosiasi yang baik dengan clien untuk mencapai sebuah kesepakatan dan menjalin sebuah kontrak kerjasama. Melalui kemampuan negosiasi yang baik, seorang clien akan merasa sangat dihargai dan merasa senang menjalin kerjasama dengan perusahaan yang bersangkutan. Sehingga terjalin sebuah kesepakatan kontrak kerjasama yang saling menguntungkan bagi kedua belah perusahaan yang bekerjasama. Kemampuan negosiasi yang baik oleh sekretrasi akan menciptakan citra positif bagi perusahaan, karena sekretaris juga merupakan salah satu tolak ukur kredibilitas dari sebuah perusahaan. Kemampuan negosiasi yang baik yang dikuasi sekretaris akan menciptakan hubungan kerjasama yang kondusif sehingga visi dan misi perusahaan akan lebih mudah dicapai.
Pembahasan tentang kemampuan negosiasi bagi seorang sekretaris ini diangkat berdasarkan pengamatan penulis pada kondisi di lingkungan perkantoran mengenai jabatan seorang sekretaris. Seorang sekretaris secara umum hanya mengutamakan ketrampilan manajemen kantor dan ketrampilan bekerja efektif dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaan kantor. Seorang sekretaris terkesan mengenyampingkan ketrampilan bernegosiasi yang sesungguhnya itu menjadi ketrampilan yang wajib bagi seorang sekretaris. Oleh karena itu, diharapkan setelah kita mengkaji tema ini, seorang sekretaris ataupun calon sekretaris akan menjadikan ketrampilan bernegosiasi sebagai ketrampilan wajib yang mutlak dimiliki oleh seorang sekretaris disamping ketrampilan manajemen kantor dan ketrampilan bekerja efektif. Tentunya jika hal ini diterapkan dalam mata kuliah Program Studi Administrasi Perkantoran, akan tercipta lulusan-lulusan sebagai calon sekretaris yang professional dalam segala hal dalam bidangnya. Trampil dalam manajemen kantor, trampil dalam bekerja efektif dan trampil dalam menjalin kerjasama dengan clien dengan teknik negosiasi yang baik.

A.     Negosiasi
Secara umum kata "Negosiasi" berasal dari kata to negotiate, to be negotiating dalam Bahasa Inggris yang berarti "merundingkan, membicarakan kemungkinan tentang suatu kondisi, dan atau menawar". Sedangkan kata-kata turunanya adalah antara lain "Negotiation" yang berarti "menunjukkan suatu proses atau aktivitas untuk merundingkan, membicarakan sesuatu hal untuk disepakati dengan orang lain", dan "Negotiable" yang berarti "dapat dirundingkan, dapat dibicarakan, dapat ditawar".
Menurut Oliver, negosiasi adalah sebuah transaksi dimana kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Hal ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak sehingga terjadi proses yang saling memberi dan menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama.
Pendapat lain menurutt Fisher R dan William Ury, negoisasi adalah komunikasi dua arah dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat keduabelah pihak memiliki berbagai kepentingan yang sama atau berbeda. Fisher R dan William Ury juga mengemukakan bahwa negosiasi adalah pertemuan antara dua pihak dengan tujuan mencapai kesepakatan atas pokok-pokok masalah yang :
a.      Penting dalam pandangan kedua belah pihak
b.      Dapat menimbulkan konflik di antara kedua belah pihak
c.       Membutuhkan kerjasama kedua belah pihak untuk mencapainya.
Negosiasi merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dengan kita sadari maupun tidak, sebagai contoh ketika kita sedang berbelanja atau membeli sesuatu di pasar, maka kita akan terlibat suatu proses tawar-menawar harga barang yang akan kita beli (kecuali apabila kita membeli disupermarket/minimarket kita tidak akan bisa menawar), dalam hal ini berarti kita sedang melakukan praktik negosiasi. Begitu juga ketika kita sedang meminta sesuatu kepada orang tua kita, misalkan kita menginginkan handphone (HP) namun orang tua kita malah membujuk kita dengan janji akan dibelikan sepeda dan tidak membelikan HP dengan alasan tertentu, dalam hal ini orang tua kita melakukan proses negosiasi dengan kita.
      Bagi beberapa orang, untuk contoh kasus pada saat kita berbelanja di atas, beberapa orang merasa cukup dengan harga yang ditawarkan oleh penjual, sementara yang lain merasa perlu untuk melakukan negosisasi dengan menawar harga kembali untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Kesadaran untuk "     merasa perlu untuk menawar kembali" ternyata menghasilkan suatu bentuk penghematan. Berawal dari kesadaran inilah kemudian menjadi dasar telenta yang dikembangkan sebagai suatu bentuk Negotiation Skill.
      Definisi negosiasi bisnis dapat diartikan sebagai suatu bentuk pertemuan bisnis antara dua pihak atau lebih untuk mencapai suatu kesepakatan bisnis. Negosiasi merupakan perundingan antara dua pihak dimana didalamnya terdapat proses memberi, menerima, dan tawar menawar. Selain itu negosiasi juga merupakan ijab kabul dari sebuah proses interaksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk saling memberi dan menerima atas sesuatu yang ditentukan dengan kesepakatan bersama.
     
B.     Tujuan dan Manfaat Negosiasi
Dengan memiliki ketrampilan bernegosiasi, banyak manfaat yang akan diperoleh sesorang ataupun bagi seorang sekretaris. Ketrampilan negosiasi yang baik akan menjadi salah satu point plus bagi kualifikasi yang dimiliki sekretaris untuk mendapatkan pekerjaan.
Ada beberapa tujuan dari sebuah negosiasi dalam bisnis, yaitu antara lain :
a.      Untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat yang mengandung kesamaan persepsi, saling pengertian dan persetujuan.
b.      Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi bersama.
c.       Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi saling menguntungkan dimana masing-masing pihak merasa menang (win-win solution).
Selain mempunyai tujuan, negosiasi juga mempunyai manfaat. Manfaat yang diperoleh dari sebuah proses negosiasi di dalam bisnis resmi antara lain adalah :
a.      Untuk mendapatkan atau menciptakan jalinan kerja sama antar badan usaha atau institusi ataupun perorangan untuk melakukan suatu kegiatan atau usaha bersama atas dasar saling pengertian. Dengan terjalinnya kerjasama antar kedua belah pihak inilah maka tercipta sebuah transaksi bisnis yang saling terkait, sehingga membuat hidup perekonomian. Dengan kata lain, bahwa suatu proses negosiasi bisnis merupakan bagian dari suatu proses interaksi guna menghidupkan perekonomian dalam skala yang lebih luas.
b.      Dalam sebuah perusahaan, sebuah proses negosiasi akan memberikan manfaat untuk menjalin hubungan bisnis yang lebih luas dan juga untuk mengembangkan pasar, yang diharapkan memberikan peningkatan penjualan. Proses negosiasi bisnis juga akan menghasilkan harga yang lebih baik dan efisiens, yang memberikan keuntungan yang lebih besar. Dalam jangka panjang hal ini akan memberikan kemajuan dari sebuah perusahaan

C.     Perilaku Asertif dalam Bernegosiasi
Perilaku Asertif adalah apabila dalam berkomunikasi dengan orang lain berusaha menyenangkan, mempunyai pendirian teguh, berkepribadian, memperjuangkan keinginannya dengan tidak membuat orang lain merasa dirugikan, mengalah untuk menang. Pada intinya asertif adalah sebuah gaya yang alamiah ketika seseorang melakukan negosiasi atau menjalin hubungan dengan orang lain, yakni berterus terang, jujur, dan sopan santun. Sebagai orang yang profesional maka perilaku tersebut harus melekat pada diri atau bagian dari seseorang.
Perilaku asertif bisa diupayakan dengan mengkomunikasikan kesan pribadi yang menghargai diri dengan menghargai orang lain. Perilaku asertif didasari bahwa kita mempunyai kebutuhan, kepentingan dan hak yang sama sebagai manusia di tengah-tengah komunitas.

Rosidah (2005: 55-56) memberikan tips upaya untuk menjadi orang yang asertif antara lain :
a.      Mampu mengenal diri sendiri
      Dengan mengenali karakter diri sendiri kita akan mampu memahami diri sendiri dan mampu untuk memahami orang lain. Tiap orang memiliki kepribadian yang cenderung berbeda. Dengan pemahaman tersebut dimungkinkan akan diperoleh pendekatan yang saling menguntungkan.
             b.      Mau mengerti dan menerima umpan balik
Bermodal dari saling memahami pribadi diri sendiri dengan orang lain, akhirnya diperoleh kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi maupun keadaan. Sehingga individu mampu menerima perbedaan opini dan menerima umpan balik.
      Perilaku asertif tersebut seirama dengan tingkat kematangan atau kedewasaan kepribadian seseorang. Orang yang matang akan mampu menekan ego sehingga di dalam berperilaku senantiasa memperhatikan pertimbangan yang bijak, tidak mengabdi pada kepentingan pribadi atau kantor, melainkan melihat urgensi secara proporsional. Dengan demikian di dalam mempengaruhi orang lain akan bersikap lebih mudah mentoleransi perbedaan dan secara hati-hati memasukkan ide-ide yang bertentangan dengan lawan bicara. Artinya pengaruh yang disampaikan dikemas secara lebih halus dan penuh pengertian.

D.     Teknik Menjadi Negosiator bagi  Sekretaris
Gaya seseorang dalam bernegosiasi ada dua tipe yaitu tipe agresif dan tipe asertif.
Pada tipe agresif, kedua pihak saling berkompetisi dan mementingkan diri sendiri sehingga salah satu pihak ada yang merasa dikalahkan atau kedua-duanya sama tidak mendapatkan keinginannya. Dengan cara seperti ini, hubungan interpersonal hanya dapat berjalan singkat. Pada tipe asertif, kedua pihak saling bekerjasama dan bermusyawarah sehingga sama-sama mendapatkan keinginan masing-masing, sama-sama menang dan hubungan baik bisa dipertahankan.

Ambar (2005: 53-54) mengungkapkan beberapa langkah yang dapat dicapai untuk menjadi negosiator :
a.      Jangan berfokus pada pembicaraan diri sendiri
Seringkali orang tidak peduli terhadap pendapat orang lain karena terlalu memusatkan perhatian pada pendapatnya sendiri. Orang seperti ini biasanya cenderung gagal dalam bernegosiasi. Orang yang lebih banyak diam dan mau menyimak pembicaraan orang lain justru mampu mempengaruhi keyakinan orang lain. Sebab mereka bisa mengontrol pembicaraan dan sikapnya sebelum dan sewaktu menyampaikan pendapat-pendapatnya.
b.      Membuat persiapan
Sebelum bernegosiasi carilah informasi mengenai posisi orang lain dan posisi diri sendiri. Masukilah situasi negosiasi dengan rencana yang matang dan berbagai pilihan penyelesaian.
c.       Menjadi asertif
Negosiasi dan asertif selalu berjalan bersamaan. Percaya diri diperlukan dalam menawarkan usulan dan tidak menjadikan pihak lain merasa kalah. Sikap asertif diperlukan pada saat mengungkapkan ide secara jelas fair untuk kedua belah pihak dan apabila pihak lain tidak setuju maka memberikan kemungkinan lain yang tidak merugikan orang lain. Dalam proses negosiasi, kemukakan “tidak setuju” dengan cara tidak langsung dalam bentuk musyawarah.
d.      Hubungan interpersonal yang positif
Jika terjadi pertentangan pendapat dalam proses negosiasi, fokuskan pembicaraan hanya pada masalah yang dipertentangkan dan memisahkannya dari hal-hal yang bersifat personal.
e.       Sikap tubuh saat berkomunikasi
Sikap tubuh ketika berbicara berpengaruh terhadap keberhasilan dalam proses negosiasi. Misalnya : tatapan mata tidak memancarkan kebencian atau kesinisan, ekspresi wajah yang ramah namun tetap mengesankan ketegasan, sikap duduk yang tegak, hindari gerakan tangan yang tidak perlu.
f.        Membuat persetujuan kerjasama
Saat membuat persetujuan jangan lupa mengulas kembali persoalan awal atau persoalan mendasar. Jangan sampai jalan keluar yang diambil tidak menjawab persoalan.
                                                        
Memiliki ketrampilan negosiasi bisnis yang baik bagi seorang sekretaris sangatlah penting dan memberikan banyak nilai positif. Sekretaris yang memiliki ketrampilan negosiasi yang baik akan memiliki point plus dalam memenuhi kualifikasi dalam dunia pekerjaan kantor. Kemampuan negosiasi yang baik dapat diperoleh dari banyak faktor seperti seberapa banyak kapasitas kita mengikuti kegiatan keorganisasian, seberapa banyak jam terbang yang kita miliki serta bagaimana kita dapat mengenali dan menggali potensi diri sendiri dengan menerapkan teori-teori yang didapat. Oleh karena itu, seorang sekretaris selain wajib cekatan dalam menajemen kantor, efektif dalam bekerja, juga harus menguasai ketrampilan bernegosiasi untuk mencapai jabatan sebagai sekretaris professional.
Seorang sekretaris seharusnya tidak mengesampingkan kemampuan komunikasinya terutama kemampuan bernegosiasi, karena pekerjaan sekretaris dimasa depan akan lebih kompleks yaitu sekretaris tidak hanya bekerja di depan komputer melainkan seorang sekretaris professional di masa depan akan lebih banyak mendampingi pimpinan dan menjadi utusan perusahaan untuk melakukan negosiasi kerjasama dengan clien perusahaan lain. Jadi seorang sekretaris wajib memiliki kemampuan komunikasi yaitu kemampuan bernegosiasi yang baik sebagai bekal dalam menjalankan pekerjaannya.




SUMBER REFERENSI

Sujana, Asep ST., 2004.  Retail Negotiator Guidance.  Jakarta : PT. SUN Printing

Prijosaksono, Aribowo Roy Sembel., 1999. Negosiasi.  Jakarta : PT. Gramedia

Stermerding. 1977. Teknik Rapat dan Diskusi Kelompok. Jakarta : Balai Aksara

Sugeng. 2014. Pengertian, Tujuan dan Manfaat Negosiasi. Artikel diunduh dari

Rosidah dan Ambar Teguh Sulistiyani. 2005. Menjadi Sekretaris Profesional Dan Kantor Yang Efektif. Yogyakarta : Gava Media